Tampilkan postingan dengan label puisi cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 November 2013

Sang Pecinta Malam

Malam, akulah pecintamu
Indah walau tersekat kelambu
Awan bergumul tergulung kaku
Samar kerlip lentera baru

Terseka seka kisi kisi
Gurat gurat putih tipis
Kabut telaga nirmala hati
Merabun semu luka ditepis

Menanti hujan putih cahaya
Dari sisa debu angkasa
Yang jatuh tersebar meluka
Di satu titik asal sang singa

Selalu ornamen tak arti
Untuk ungkap cintaku
Pada sang langit malam
Yang menebar bintang berjatuhan

Di rasi Leo aku mengaum
Garis-garis cahaya ku lahir
Terang cepat dan menghilang
Jadi api dan abu debu

Kueratkan kebali cintaku
Pada langit malam
Dengan saksiku melihat
Pertunjukanmu malam ini

Sabtu, 03 Maret 2012

Iri, Mungkin....

Diriku sangat bahagia bersama cinta
Hingga lupa bagaimana rasanya bersyair
Diriku terlalu bahagia bersama cinta
Hingga tak pernah memberinya bait-bait

Kini aku iri, iri sekali
Mungkin aku cemburu
Dengan insan yang memburu mawarku
Penuh dengan puisi, ya aku iri, mungkin cemburu

Aku iri dengan apapun yang ia lakukan
Meski aku tahu, mawarku jadi masa depanku
Aku iri karena tak menghadiahi syair-syair kembali
Ya aku iri, mungkin cemburu

Pembual ini kini membual
Tapi sendiri saja, malu karena iri
Terimakasih iri, memberikan bualanku
Kembali lagi bualanku


Ya aku iri, mungkin..... cemburu

Jumat, 02 Maret 2012

Di Akhir Bulan Ketiga

Mawarku jauh disana
Mengernyitkan pangkal bunga
Demi di akhir bulan ketiga
Mendongak mengamati bulan

Terpa angin membuatnya bergidik
Dingin, tak sontak meluruhkan
Demi di akhir bulan ketiga
Berpindah pot, berganti tanah

Pembual dipeluk sirna
Menanti sapa dalam momentum
Demi di akhir bulan ketiga
Berduduk tak bergoyah

Sepinya kesepian meski bicara
Tertambal surat menyurat dengan ia
Demi di akhir bulan ketiga
Pelukku hanya lewat pena

Pembual ingin mawarnya
Memetik tangkai yang mustahil layu
Pada akhir bulan ketiga
Aku akan bisa mencium wangi mawarku

Rabu, 01 Februari 2012

Aku rindu, benar-benar rindu

Tak ada kata gurau didada
Tersapih angin malam kering merana
Aku butuh pertolongan dari penyelamat
Sesak ini menghujam terlalu rapat

Aku berdiri, jatuh tersungkur
Aku bernafas, sesak tersedak
Hatiku jatuh tersungkur karena cinta
Dan jiwaku sesak terjerat rindu

Aku rindu, benar-benar rindu

Berbalas surat hanya pelega dahaga
Raga tak kunjung melepas jerat
Aku rindu memelukmu erat
Aku rindu mengusap keningmu tanpa jelaga

Aku rindu, benar-benar rindu

Pagiku, siangku, malamku
Sepi dan tersepikan jarak
Tawa kala lelucon kawan
Aku rindu tertawa denganmu

Aku rindu, benar-benar rindu



Minggu, 08 Mei 2011

Tentang Aku, Pagi, Bintang dan Namanya


Menatap Fajar
Ia tak menyakiti mata
Karena secercah dan seberkas

Venus menyapa pagi
Dengan senyumnya cantik
Hati ini tertawan lagi

Kabut merayap turun
Menjadi pelengkap selimut
Dingin lembab dan lembut

Mata terasa terkena lem
Tersipu wanginya anggrek
Yang menyisir tubuh seperti pel

Agak seperti kartu Tarot
Selalu teringat namanya seindah giok
Setiap pagi layaknya kado
Published with Blogger-droid v1.6.8

Kamis, 05 Mei 2011

Malam (2)

Inilah mengapa disebut Malam
Mentari lari bulan datang membawa sekarung bintang untuk ditaburkan di langit-langit hati ini
Angkasa yang merona menapak ke cakrawala panggil gelap untuk diberi sinar
Lukisan langit menorehkan namamu di sana antara konstelasi-konstelasi yang sedang berbaris
Anggunnya bulan menyanyi bintang menari-nari menemani aku yang bernyanyi untukmu
Membisik angin-angin ke telinga ku bersenandunh lirih menghantarkan perlahan-lahan kata cintaku padanya

Itulah mengapa disebut Malam
Dingin yang memberi kehangatan
Gelap yang memberi penerangan
Sepi yang memberi sapa
Published with Blogger-droid v1.6.8

Senin, 04 April 2011

Senandung Hujan

Di balik jendela dunia ceria ku
Udara sejuk dan rerintikan air
Hujan deras temani sendiriku
Hujan deras bersenandung untukku

Samar-samar ku lihat bayang-bayang dirimu
Di antara rintik-rintik tirai air
Tampak kau tersenyum dan melambaikan tangan
dan kau ikut bernyanyi bersama hujan

Angin pun memeluk relung tubuhku
dan ia bisikkan kata-kata untukku
"Akan ku sampaikan salammu untuknya,
Kekasih hatimu"

Senandung hujan menemani ku
Senandung hujan slalu dekatku
Tolong sampaikan kepadanya salam rinduku..du du du du du du..
Published with Blogger-droid v1.6.8

Jumat, 25 Maret 2011

Pelangi



Dinda, kau tahu pelangi?
Ia begitu indah
Warnanya benar-benar memukau
Memandanginya membuatmu senang dan tentram

Tapi apa kau tahu, Dinda?
Pelangi butuh hujan
Ia tak nampak tanpa hujan
Karena hujanlah yang membuat pelangi

Jadi bersabarlah, Dinda
Tunggulah hujan ini
Sampai cukup reda
Dan kemudian lihatlah ke langit
Kau akan dapati indahnya pelangi

Namun, jika hujan tak kunjung reda
Hapuslah awan mendung di langit
Karena aku tahu kau mampu
Hentikan hujan dengan inginmu
Dan lukislah pelangi dengan hatimu
karena aku tahu hatimu seindah pelangi

Jumat, 18 Maret 2011

Bintangmu



Cintaku, seringkah kau amati langit?
Dia amatlah luas dan penuh misteri
Kau merasakannya namun tak mampu menyentuhnya
Itulah langit luas tanpa batas

Cintaku, seringkah kau melihat bintang?
Dia berkilauan menatap mega
Dari ufuk sampai ke batas jari menunjuk
Dia akan menemanimu selalu

Cintaku, seringkah kau amati langit?
Cintaku, seringkah kau melihat bintang?

Bintang bertaburan di langit
Dia bersinar tanpa lelah menemani
Kita jarang memberikan pandangan
Mereka selalu menatap kita
Dia bersinar tanpa lelah menemani

Pernahkah cinta, kau mendengar sang bintang mengeluh padamu?
Karena dia tulus memberimu arah

Tolong tunjuklah satu bintang genggamanmu
Dan bintang tersebut akan jatuh di hadapanmu
Jatuh dengan segenap hatinya yang padam karena menghantam bumi
Namun akan tetap menyinari hari-hari mu sampai akhir cahayanya

Pernahkah cinta, kau mendengar sang bintang menunduk takut?
Karena dia tegar melindungimu

Tolong tunjuklah satu bintang genggamanmu
Dan bintang tersebut akan jatuh di hadapanmu
Dia akan menjaga cahayamu meski bintang itu bercahaya lemah
Namun akan tetap menyinari hari-hari mu sampai akhir cahayanya

Cintaku, pandangilah langit malam ini
Cintaku, pandangilah bintang-bintang ini
Bintang ini

Senin, 06 Desember 2010

Rindu pada Bintang



Dingin malam memotong-motong bait
Dalam hening, senyap-senyap suara terngiang
Kata itu, sepatah saja terucap
Rindu

Aku Rindu pada Bintang
Seperti rindunya awan kepada lautan

Air yang terpisahkan dari laut
Diangkat oleh Surya ke langit menjadi awan
Dihembus oleh Indra menuju daratan
Dan jatuh ke daratan terpecah pecah

Aku Rindu
Seperti rindunya Artemis

Artemis yang selalu jatuh ke Bumi
Bumi biru nan indah
Dia terjatuh tapi tak pernah sampai bumi
Artemis yang rindu, terjatuh hanya dengan mengitarinya

Atau sebut saja aku perindu
ataukah hanya pembual saja
meski sedang rindu

Apakah rindu ini berarti?
Iya untuk ku, sangat untuk ku

Karena itu, Dinda
Jikalau kau tak memahami
Anggap saja ini bualan
karena memang tak bermakna
Tapi rindu sang Pembual ini, Dinda
Yang memaknai bualannya

Aku Rindu padamu Bintang

Rabu, 20 Oktober 2010

Halte 4 tahun



Di sebuah halte teduh aku datangi
Karena beberapa saat ku perhatikan
Ada bus wisata cantik yang melintas

Ku pikir aku bisa turut dia
Menaikinya untuk berkeliling dunia
Hingga ku tunggu bus itu di halte teduh ini

Kulihat bus itu mendekat,namun ternyata lewat saja

Ya, ku tunggu saja, barangkali bus itu sedang tak berhenti di sini
yang ternyata saat itu dia singgah di halte lainnya

Ya, ku tunggu saja, barangkali bus itu akan berhenti di sini

dan ternyata sudah 4 tahun aku duduk di halte bus yang teduh ini
yang justru bus lain yang sering lewat di sini
mampir selalu di halte ini, dan itu bermacam-macam
dan sering menarik ku untuk turut menumpang

tapi aku sedang ingin berwisata
dan hanya bus wisata itu saja yang bisa membawaku

Ya, ku tunggu saha, barangkali bus itu akan memberi tumpangan padaku

tapi, sudah terlalu lama ku duduk
lama-lama rasa gerah ini muncul
kini aku sudah mulai melihat-lihat arlojiku
hmm.. 4 tahun ya
Lebih baik aku bergerak sebentar daripada menjadi arang

Hai 4 tahun, sebenarnya aku yakini
namun karena aku saja yang takut dan malu
aku takut kalau-kalau bus wisata itu justru menabrakku bukan memberiku tumpangan
aku malu karena sampai sekarang aku tak menelepon pelayanan bus itu

Ya, semua cuma karena aku takut dan hanya malu
yang membuatku terus duduk di halte ini

Tapi seorang bijak berkata padaku
dia menasehati bukan memberi bualan seperti yang aku lakukan
"Janganlah kau egois terhadap dirimu sendiri,
Jika kau ingin berwisata, kejar bus wisata itu!"

Nasihat yang menyejukkan
namun menjadi dilema
karena meski telah lama
namun seperti melakukan sesuatu yang baru
atau mengulang dari awal

Yah, 4 tahun halte bus ini menghidupi ku
sementara saja
Untuk 4 tahun, mungkin saja sekelebat bus itu pernah lewat
tanpa aku sadari atau ketika aku tertidur

Yah, untuk 4 tahun
4 tahun, 4 tahun
4 tahun di halte bus

Jumat, 01 Oktober 2010

Yang Sudah Rapuh

Di sini ku melihat ke bawah ada dunia
Tempat yang menakjubkan dan indah
Dimana bahasa adalah mukjizat

Ada alunan melodi alam
Melantunkan cinta sang Pemahat
Meraba-raba likuk udara

Kepada bumi terpijak ku bertuturkan

Aku datang dari dunia lain, merangkul fana,
menjelma menjadi liat,
mematung tak daya,
rapuh dan terasing,
dan menunggu hancur.
Tapi setidaknya akan bertahan satu abad lagi
karena ada patung di seberangnya
yang ingin ia temani sampai senjanya

Kepada sang Pemahat aku memohon
Tolong kuatkan aku
Jangan biarkan aku hancur dahulu
Untuk setia menemani patung di seberang itu

Rabu, 08 September 2010

Jika Dirimu

Hatiku semerah sang senja
Di antara bukit yang hijau
Sehijau perasaan jiwa
yang selalu rindukan cinta

Aliran sungai yang sendu
Membawa air mata hati
Di kala karang batu menghadang
Memecah buih jernih rasa sayang

Dahulu engkau tak tampak
tapi kini engkau bersinar
Di lubuk hati ku yang paling dalam

Jika dirimu tahu
Semua yang kurasakan
Sungguh teramat berat tuk mengatakan
Ku cinta padamu

Akan ku tunggu hingga saatnya tiba
Apa yang terpendam jauh di diriku
Akan ku tunggu sampai engkau pulang
Ke dalam dunia yang ku buat untukmu

Dahulu engkau tak tampak
tapi kini engkau bersinar
Di lubuk hati ku yang paling dalam

Jika dirimu tahu
Semua yang kurasakan
Sungguh teramat berat tuk mengatakan
Ku cinta padamu

Engkau tahu
Dan apabila kau tahu
Sungguh bahagia bila dapat ku katakan
Ku Cinta Padamu, Ku Cinta Padamu

Selasa, 07 September 2010

Bintang Sang Pembual

Sang Pembual sedang bisu
Tanpa nada dan rima
menatap atap penuh bintang
Tak berbataskan tirai kelopak mata
Hanya melihat satu bintang
dan ku tunjuk dengan diam sambil terlentang
sebelum tenggelam dan terbit malam esok lagi
Terbata-bata menggariskan jariku di konstelasi
Sebagai penggambaran betapa indahnya
Kosmos tak kan ku jamah tapi bintang
Satu bintang dari pembual ini dalam sanubari

Pembual yang berdoa di temani gelap malam
Untuk dapat terbang melayang
Manjajaki awan melangkahi surya hingga ku sampai
Ke satu bintang, bintang kembar yang saling mengitari
Kan ku dekati sedekat mungkin
Sampai ku terbakar habis olehnya
Hanya karena bintang-bintang
Satu bintang yang selalu bersinar terang
Di satu konstelasi terindah dalam hati sang Pembual