Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2011

Bidadari Terpejam


Ada bidadari terpejam
Ia sedang letih raga
Bukan karena terhempas rajam
Atau terbakar bara

Tubuhnya merebah di hamparan sutera
Cantik indah semegah lautan mega
Tanpa gerak ia menari ribuan dansa
Dalam lelap demi terjaga di bahagia

Wajahnya diam penuh ungkapan
Hingga sajak ini tak jadi tiada
Bidadari terlentang dalam harapan
Terpandang kau memukau hamba

Jumat, 08 Juli 2011

Sajak si Bulan





Bergumpal awan tipis di dalam senja
Pemisah antara senja dan rina
Pekat itu lembut sesungguhnya
Bagai kabut tak tercampur jelaga

Randu terpisah angin membawa
Bertebaran dan di terpa cahaya
Cahaya yang setitik terantara
Awan tipis itu apa?

Itu rinduku yang tersendu
Tapi bukan Melayu yang mendayu
Rindu mawar dari lubuk kalbu
Aku Bulan ingin bertemu Bintangku

Rabu, 29 Juni 2011

Ribuan Ungkapan Rindu Tak Tersusun



Bulan mengintip di balik semak
Jupiter menggandeng Virgo yang setia
Kerlip Spica terbias karena tersentak
Karena kuamati setelah sekian lama

Yang jauh disana apa kau amati
Aku menunjuk mega bergelar lintang
Itu kau yang bersinar di atas hati
Yang selalu memberiku cahaya lantang

Cemara meranggaskan angin
Lirih siup sepoi teriris bisik
Si cantik di sisi pantai yang dingin
Pembual tulis bualan agar sedikit terusik

Hatimu yang berjelal akan rindu
Hatiku yang bergumbul oleh syahdu
Agar sesakmu sedikit terurai
Kupersembah bualan yang panjang terangkai

Bualanku adalah hidup
Tapi cinta ku adalah matahari
Yang takkan pudar ataupun redup
Seperti lilin yang telah habis mati

Dulu seonggok hati ini bersayap
Tapi kini yang telah lenyap
Karena benda kini bersarang apik
Tercuri oleh sangkar mawar cantik

Rupawan sang Dewata menata
Tali merah terkait erat mengikat
Hingga rindu ini terbata-bata
Ingin ku jumpa pun makit kuat

Seandainya aku merpati putih
Segera pergi tanpa waktu ku sapih
Demi puteri yang menanti
Seekor naga ini yang luluh hati

Sungguh seribu kias ingin kuungkap
Yang tertulis atau yang ku ucap
Ekspresi hati ku yang meluap
Untukmu bualan ini terusap

Senin, 27 Juni 2011

Hai Mawar


Ini adalah dingin malam
Tampak tenang tak suram
Mawar rona antara temaram
Teja rembulan mengirim salam

Harum dia larut di udara
Kau terukir keras di hati kanda
Terngiang tak henti tentang kata
Benar lah pembual rindu dinda

Sajak bersenang senandung
Iringi riangnya kidung
Persembahan untuk bintang ia berkalung
Hati yang indah tak berkabung

Untuk yang cantik jiwanya
Yang nyata dan tak maya
Tempat tertambatnya hati hamba
Sungguh mawar yang kucinta

Minggu, 05 Juni 2011

Bunga

Untuk yang tegar jiwanya
Namun rapuh hatinya
Senyumlah kemudian
Janganlah kau berlarut sedih nian

Ini warna hidupmu
Terlukis indah kadang luka
Tertulis juga sendu
Namun tetap ingatlah ria

Kepada yang jiwanya tegar
Padamu aku bersauh
Serangkai mawar kuberi yang mekar
Agar hatimu tetap tinggi tak jatuh
Published with Blogger-droid v1.6.8

Minggu, 22 Mei 2011

Sadur


Mengurungkan hasta
Menuding pena
Legam kutikam
Rasa menerkam

Merak berbicara
Tentang rumput terhampar
Bidu terlena
Hatinya terkapar

Pembual berucap
Tentang cahaya didada
Dinda hanya tatap
Aku tak tahu apa maknanya

Waktu tertulis
Raga mengiris
Daun bergolak
Tapi hati menolak

Pohon terpanggil
Bual sang muda
Tak sadur terampil
Dari guru sang senja

Maafkan hamba
Apakah terluka
Bait tertata
Merakit rasa

Selasa, 17 Mei 2011

Bulan Purnama


Bulan ku nan indah
Purnama yang penuh cahaya
Kecantikan alami yang tertatah
Malam gelap ia beri pelita

Kelam bukanlah suram
Karena bulan telah menyalakan
Secercah sinar-sinar temaram
Terbias oleh sekat-sekat awan

Cantiknya memantulkan
Kharisma sang Matahari
Dengan senyum yang ia torehkan
Dari senja hingga datang pagi

Tak urung pembula tersenyum
Menyengingir karena terpesona
Sekelebat terlintas biduan yang ia beri kagum
Yang seperti bulan selalu tampak pipi yang merona

Bulan ku nan indah
Sajak tentang cahaya tak sirna
Tak tertutup oleh besarnya kubah
Karena terjaga hati penyair yang berkelana

Kamis, 28 Oktober 2010

i

Inilah yang terjadi
Ketika ku merenung waktu pagi
Berpikir sesuatu yang pasti
tapi terlintas tentang dia tadi

Aku pun terlintas sebuah puisi
Tapi kenapa harus selalu kiasan berapi
Yah, Kadang ini harus kutulis tanpa arti
Supaya dia membacanya dengan murni

Yah, inilah prosa isi hati
Pembual ini menulis dan mencari
Kata-kata tepat untuk di tulis sekali
Yang tak perlu mengartikan dengan imajinasi

Baca saja prosa seperti ini
Rasakan saja apa yang tertulis di sini
Tak perlu kau maknai dengan hati
Tapi cukuplah kau mengerti

Ya, ini Prosa isi hati
Pembual ini menulis dan mencari
Kata-kata indah tersusun rapi
Dan apa yang di hati, kuungkapkan dengan 'i'

Kaulah yang aku cintai
Kadang hamparan dada ku beremosi
Hingga berjejal puisi merajai
Ya, karena kau orang yang ku sayangi

Malu aku pun malu menatapi
Kedua matamu ketika bertemu nanti
Malu aku malu jujur mempersembahi
rasa sayang yang terpatri mati

Malu aku pun malu dilihati
Mereka dan kau yang membaca prosa ini
Tapi semua harus kulewati
Karena hatimu ingin ku gapai

Ya, ini Prosa isi hati
Pembual ini menulis dan mencari
Kata-kata indah tersusun rapi
Supaya kau mengerti